Ketika aku berjalan hari itu, kulihat
langit dengan cahaya mulai meredup. Angin bertiup kencang, seolah hujan akan
turun deras. Sejenak aku terhenti, melihat langit seolah akan menangis. Tapi
bagiku, itu adalah hal paling menyenangkan. Ketika langit mendung, diselimuti
awan gelap kehitaman. Dibelenggu oleh angin sejuk yang menerpa wajah dengan
sangat menawan, bagiku. Hal yang paling aku rindu-rindukan sepanjang perjalanan
hari-hariku. Seolah aku berada di masa lalu, ketika aku masih berada di samping
ibuku, yang masih segar-bugar, berjalan menyusuri jalan panjang bersamaku,
sembari memegang sebelah tangan mungilku, dan meninting benda bawaan di tangan
sebelahnya. Memanduku melalui jalan yang tak kukenal sama sekali, agar aku tak
tersesat.
Wajahnya begitu cerah kulihat ketika langit mendung itu datang. Dan
semakin menawan ketika angin kencang itu menerpa dan menerbangkan jilbabnya
hingga menampar-nampar wajahnya secara halus dan lembut. Sesuatu yang masih
sangat kurindukan sampai saat ini. Lalu, dituntunnya aku agar tiba di tempat
perlindungan yang aman, agar aku tak terserang demam akibat hujan yang akan
mengguyurku. Menjagaku agar aku tetap hangat, meskipun aku sangat ingin diguyur
sedikit air hujan yang terlihat menyegarkan itu. Sekedar untuk membasahi wajah
dan bahuku.
Anak yang terkesan
nakal itu, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Yang punya begitu banyak
cerita yang tak akan habis dibahas dalam sebuah jilid buku berisi 200 lembar
dan 400 halaman. Cerita yang ingin dibagi kepada orang-orang yang butuh
mendengar segala keluh-kesahku, dan canda-tawaku, yang dulu tak pernah ingin
didengar orang di manapun aku berada. Bahkan, kini, wanita ini tengah berjuang
menapaki akhir pendidikannya yang akan segera berakhir dalam satu tahun ke
depan, targetku. Sambil menunggu hari wisuda itu datang, dan terus memikirkan
dengan siapa aku akan menghadirinya, setelah ibu yang sangat kuinginkan hadir,
tak dapat lagi hadir menemaniku.
Keadaan seperti itu juga mengingatkanku,
ketika aku bersepeda berboncengan dengan kakakku menempuh hujan lebat yang
mengguyur kami dengan dahsyat ketika kami mengambil jahitan ibu di suatu tempat
yang cukup jauh dari rumah. Hujan deras yang seakan terasa seperti jejaruman
tajam yang menghantam wajah kami dengan lantang. Itu untuk pertama kalinya aku
memiliki alasan bagus untuk mandi hujan dengan leluasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar