Minggu, 08 Maret 2015

Langit Mendung Hari Itu

Ketika aku berjalan hari itu, kulihat langit dengan cahaya mulai meredup. Angin bertiup kencang, seolah hujan akan turun deras. Sejenak aku terhenti, melihat langit seolah akan menangis. Tapi bagiku, itu adalah hal paling menyenangkan. Ketika langit mendung, diselimuti awan gelap kehitaman. Dibelenggu oleh angin sejuk yang menerpa wajah dengan sangat menawan, bagiku. Hal yang paling aku rindu-rindukan sepanjang perjalanan hari-hariku. Seolah aku berada di masa lalu, ketika aku masih berada di samping ibuku, yang masih segar-bugar, berjalan menyusuri jalan panjang bersamaku, sembari memegang sebelah tangan mungilku, dan meninting benda bawaan di tangan sebelahnya. Memanduku melalui jalan yang tak kukenal sama sekali, agar aku tak tersesat.
Wajahnya begitu cerah kulihat ketika langit mendung itu datang. Dan semakin menawan ketika angin kencang itu menerpa dan menerbangkan jilbabnya hingga menampar-nampar wajahnya secara halus dan lembut. Sesuatu yang masih sangat kurindukan sampai saat ini. Lalu, dituntunnya aku agar tiba di tempat perlindungan yang aman, agar aku tak terserang demam akibat hujan yang akan mengguyurku. Menjagaku agar aku tetap hangat, meskipun aku sangat ingin diguyur sedikit air hujan yang terlihat menyegarkan itu. Sekedar untuk membasahi wajah dan bahuku.
Anak yang terkesan nakal itu, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Yang punya begitu banyak cerita yang tak akan habis dibahas dalam sebuah jilid buku berisi 200 lembar dan 400 halaman. Cerita yang ingin dibagi kepada orang-orang yang butuh mendengar segala keluh-kesahku, dan canda-tawaku, yang dulu tak pernah ingin didengar orang di manapun aku berada. Bahkan, kini, wanita ini tengah berjuang menapaki akhir pendidikannya yang akan segera berakhir dalam satu tahun ke depan, targetku. Sambil menunggu hari wisuda itu datang, dan terus memikirkan dengan siapa aku akan menghadirinya, setelah ibu yang sangat kuinginkan hadir, tak dapat lagi hadir menemaniku.
Keadaan seperti itu juga mengingatkanku, ketika aku bersepeda berboncengan dengan kakakku menempuh hujan lebat yang mengguyur kami dengan dahsyat ketika kami mengambil jahitan ibu di suatu tempat yang cukup jauh dari rumah. Hujan deras yang seakan terasa seperti jejaruman tajam yang menghantam wajah kami dengan lantang. Itu untuk pertama kalinya aku memiliki alasan bagus untuk mandi hujan dengan leluasa.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar